Menilik Perubahan Tren Travel di Era New Normal

Perubahan Tren Travel di Era New Normal

Pandemi COVID-19 secara drastis telah menjungkirbalikkan kondisi beberapa sektor operasi terbesar di Indonesia, tak terkecuali sektor pariwisata.

Hasil survei menunjukkan bahwa para pelancong harus ekstra berhati-hati dalam merencanakan perjalanan mereka di era new normal. Sebuah survei internal yang diselenggarakan oleh Traveloka, perusahaan travel terkemuka asal Jakarta, menemukan adanya penurunan kecemasan masyarakat dalam melakukan perjalanan wisata (baik secara domestik ataupun internasional).

Namun, hal ini tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kewaspadaan masyarakat akan pentingnya untuk senantiasa menerapkan perilaku hidup sehat.

Berikut ini adalah beberapa perubahan tren kepariwisataan yang mungkin sekali akan timbul di era new normal.

1. Protokol kesehatan yang semakin ketat

Politeknik Pariwisata Batam (Batam Tourism Polytechnic), salah satu perguruan tinggi pariwisata swasta di Kota Batam, memprediksi bahwa moda transportasi akan terus menegakkan protokol kesehatan yang ketat untuk menjamin keselamatan para penumpang.

Saat ini maskapai penerbangan beramai-ramai mewajibkan para penumpang untuk menunjukkan hasil negatif tes COVID-19 beserta beberapa dokumen lainnya sebelum keberangkatan.

Hal ini dimaksudkan agar seluruh penumpang pesawat nantinya merasa aman di sepanjang penerbangan. Ini juga guna mengantisipasi adanya risiko penularan virus di pesawat. Para pengamat mengatakan bahwa ada kemungkinan besar prosedur pengamanan kesehatan ini akan terus berlanjut hingga pasca serangan corona.

Muncul permintaan tinggi agar bandara menyediakan layanan tes rapid bagi para penumpang pesawat, terutama dari bandara-bandara yang berlokasi di titik-titik wisata populer.

Sebut saja Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, dan Bandara Internasional Supadio di Pontianak. Keempat bandara tersebut menjadi pionir dalam menawarkan layanan pemeriksaan virus korona di tempat umum.

Di samping itu, Politeknik Pariwisata Batam juga memperkirakan bahwa para wisatawan ke depannya akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempersiapkan perjalanan mereka. Tak ketinggalan pula institusi tersebut menambahkan agar para wisatawan juga tak luput mengalokasikan waktu tambahan untuk memesan tiket dan kursi guna memastikan kelancaran perjalanan mereka nantinya.

2. Faktor kebersihan diri

Kesadaran para pelancong untuk selalu menjaga kebersihan diri kian meningkat. Mempraktikan cara mencuci tangan yang benar dapat membantu menurunkan risiko Anda tertular infeksi saluran pernapasan atau penyakit menular berbahaya lainnya saat bepergian.

Dilansir dari Healthline, mencuci tangan adalah langkah pengendalian penularan virus yang paling krusial. Disarankan supaya Anda senantiasa menghindari menyentuh mulut, mata, dan hidung Anda dengan tangan yang tidak dicuci terlebih dahulu sebelumnya, atau tangan yang tidak bersarung tangan ketika Anda beraktivitas di luar rumah.

Lebih jelasnya lagi, para pelancong harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setidaknya selama 20 detik setelah menyentuh siapa pun juga apa pun ketika berwisata.

Penting juga untuk mencuci tangan Anda setelah bersentuhan dengan permukaan yang terkontaminasi kuman. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan penggunaan hand sanitizer dengan kandungan alkohol antara 60 hingga 95 persen untuk membasuh tangan apabila air dan sabun tidak tersedia di mana Anda berada.

Namun, yang terpenting dari itu semua, perusahaan-perusahaan di sektor pariwisata Indonesia harus menanggapi kecenderungan perubahan tren ini dengan mengutamakan penerapan protokol kesehatan untuk memenangkan kepercayaan pengunjung. Dengan begitu, keterpurukan ekonomi di sektor ini mungkin dapat teratasi.

3. Pariwisata “tanpa sentuhan”

Lingkungan fisik yang tidak melibatkan sentuhan dalam interaksinya berpotensi menjadi norma baru yang terbentuk saat masa pandemi berlanjut. Terlepas dari dijalankannya protokol kesehatan yang ketat, infeksi COVID-19 masih mungkin terjadi. Penyebab utamanya dikarenakan tingginya frekuensi sentuhan yang umumnya terjadi selama perjalanan.

Penggunaan teknologi mutakhir diperlukan demi terwujudnya lingkungan yang bebas sentuhan tangan, termasuk adanya sistem pemindaian dokumen tanpa sentuhan dengan alternatif penerapan perintah suara dan sensor gerak, demi menekan tingginya kecenderungan untuk menyentuh benda-benda di tempat umum dan interaksi fisik antar individu.

4. Pemilihan destinasi wisata yang lebih dekat

Melansir pernyataan Hermawan Kartajaya selaku pendiri dan ketua dari firma konsultan pemasaran Markplus untuk kompas.com, di era new normal akan muncul kecenderungan dari para wisatawan untuk memilih lokasi berlibur yang lebih dekat.

Keraguan yang tinggi akan keamanan dari negara-negara yang biasanya menjadi destinasi wisata populer dunia menjadi alasan utama mengapa tempat-tempat wisata lokal akan lebih diminati nantinya.

5. Staycation dan pariwisata dalam negeri

Penelusuran online untuk “staycation” (liburan di dalam kota sendiri) di Indonesia melonjak setelah beberapa daerah mulai melonggarkan pembatasan sosial skala besar (PSBB) sejak bulan Juni lalu. Hermawan memprediksi bahwa tren pariwisata domestik dan staycation akan meningkat pasca pandemi karena masyarakat perkotaan menginginkan untuk bepergian ke lokasi terdekat.

Di sinilah hotel dan fasilitas-fasilitas umum terkait lainnya dapat menyesuaikan kesiapan sarana untuk memastikan kesehatan dan keselamatan turis.

Meskipun pihak hotel sangat berhati-hati tentang faktor keselamatan dan sanitasi pengunjung, tidak ada salahnya bagi Anda untuk meluangkan waktu beberapa hari antara Anda dan tamu terakhir menginap di kamar yang Anda pesan. Dengan lebih sedikitnya orang bepergian, kapasitas hotel kemungkinan besar tidak akan terpenuhi seluruhnya.

Jadi, meminta kamar yang sudah kosong selama beberapa waktu lamanya seharusnya bukan menjadi satu permintaan yang merepotkan buat mereka.

Bukan cuma itu. Alih-alih mengunjungi restoran hotel, Anda sebaiknya memesan layanan kamar atau bersantap di luar, jika memungkinkan. Apabila Anda hendak menggunakan kolam renang hotel, pilih yang berada di luar ruangan dan lap kursi sebelum digunakan.

Tak hanya itu, akan lebih bagus jika Anda memilih untuk melewatkan fasilitas kesehatan yang ada di hotel tempat Anda menginap.

Apa pun perubahan tren travel di era new normal yang akan menyambut Anda nanti, selalu ingat untuk menomorsatukan kesehatan dan keamanan Anda dalam berwisata.

Check Also

9 Tips Work From Home agar Tetap Produktif di Tengah Pandemi

Selama pandemi COVID-19, perusahaan-perusahaan diwajibkan untuk menerapkan kebijakan work from home (kerja dari rumah) bagi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *